Beberapa pesan masuk melalui medsos ataupun chat pribadi. Teman-teman ini rata-rata menyampaikan keinginan untuk menjadi penulis dan bertanya tips apa saja yang harusnya dilakukan agar bisa konsisten menulis.
Saya
tanyakan kurang lebih begini, “Sudah siap belajar banyak? Siap capek kalau
dikejar deadline sama klien? Mau banyak
dan rutin membaca tiap hari?”
Tidak Semua Paham Risikonya
Beberapa
di antaranya bingung soal manajemen waktu dan menceritakan kesibukan yang mereka
lakukan tiap hari hingga agak sulit jika menjawab pertanyaan saya. Nah, dari
sini saya katakan jika menjadi penulis tidak semudah yang diucapkan para writing motivator (dan apa kata saya
juga, hehe).
![]() |
(Adobe Stock: Stocwerk-Fotodesign) |
Menulis
sebagai hobi tentu akan sangat menyenangkan, dulu saya juga tidak tiap hari
menulis. Namun ketika menulis sudah dijadikan sebagai salah satu mata
pencaharian, maka seperti halnya profesi lain ada kalanya sumpek, kesal, dan
muak melihat laptop atau kertas karena terlalu capek. Semuanya tak seindah yang
dilihat.
(Baca Juga: Menulis adalah Menangkap Hantu Gagasan di Udara)
(Baca Juga: Menulis adalah Menangkap Hantu Gagasan di Udara)
Bahkan
untuk menulis fiksi seperti novel pun memang penuh dengan ide dari saya
pribadi, tetapi ketika memasuki proses editing banyak sekali yang harus saya
perbaiki agar tulisan lebih enak dibaca. Apalagi jika menulis untuk klien
seperti blog atau copywriting,
siap-siaplah untuk mengurangi jam jalan-jalan atau bersantai demi deadline Roro
Jonggrang (kebut sehari semalam).
Sampai
saya menemukan pertanyaan di Quora tentang apa suka duka selama menjadi
penulis. Akhirnya jawaban itu ingin saya tuang kembali di blog.
Hal-hal Menyenangkan Selama Menulis
Inilah
hal-hal yang saya sukai selama menulis
![]() |
(Pixabay) |
- Meluapkan
ide. Saya adalah orang yang punya curiosity tinggi dan suka sekali
mengomentari apa saja yang memicu kekepoan saya. Saya sadar jika terus
bertanya pada orang lain pasti akan memicu sebal hehe, jadi dengan menulis
setidaknya saya bisa meluapkan apa yang saya pikirkan.
- Mengasah
keterampilan yang belum saya ketahui. Awal menulis, saya hanya tahu fiksi
dan nonfiksi. Saya menulis cerpen, novel dan puisi. Lalu ketika mulai
serius ngeblog dan menjadi content writer, saya sadar banyak sekali
hal yang tidak saya dapat di sekolah. Saya belajar copywriting, belajar
mendesain ebook dengan Canva, belajar menulis skenario, dll.
- Lebih
populer dan menambah uang. Ketika karya saya mulai banyak dan dibaca
orang, jelas popularitas meningkat (meski tidak sampai sebanyak para
selebgram), dan tabungan traveling bertambah
dari menulis. Tapi saya belum bergantung dari menulis sepenuhnya karena
saya suka bahasa asing, jadi masih kerja kantoran. Entah saat menikah
nanti, bisa saja saya full time menulis sambil menjadi penerjemah
atau freelance interpreter.
- Bertemu
dengan teman penulis yang keren-keren, diundang di banyak event dan acara
seru, menjadi writing trainer karena dikenal sebagai penulis atau
blogger.
Apa Saja yang Menjadi Duka Selama Menulis
- Capek. Saya
punya sakit gastritis, sinusitis, skoliosis ringan. Jadi kalau terlalu
banyak menulis dan kurang olahraga sampai jadwal istirahat kacau, ketiga
penyakit itu akan menyiksa saya sampai sulit beraktivitas.
- Kalau ada
yang tidak suka dengan tulisan, bisa dibully,
dicaci hingga difitnah.
- Menghadapi klien yang aneh-aneh. Sebagai content writer, kadang saya harus bersabar ketika mendapat klien yang memberi deadline mepet atau banyak banget aturan tulisannya. Jadi saya harus berusaha profesional. (Baca Juga: Proses Kreatif Sebelum Menulis)
- Dianggap
tahu segalanya. Hei, saya penulis memang tapi tidak semua topik saya suka
dan saya paham. Penulis bukanlah buku berjalan meski dituntut suka baca
hahaha
Itulah
suka duka saya selama menulis. Mungkin Anda juga punya cerita yang sama? Mari berbagi
di sini ya.
17 komentar
Wah ternyata berat juga ya menjadi penulis yang benar-benar penulis sesungguhnya. Kalau saya cuma sekedar nulis di blog, tanpa tuntutan dan tanpa deadline. Jadi cuma tok menulis santai aja membuang ide dari pikiran, hanya sekedar untuk hiburan. Kalau baca disini gambaran dipikiran saya kok seru yaa, join event dan kenalan banyak teman penulis lainnya. Ah kelihatannya seru, jadi tetap semangat menulisnya yaa mbak!
Walaupun begitu jadi penulis tetap keren ya mbak. Orang yang menyalurkan perasaan dan bisa mempengaruhi perasaan orang lain lewat tulisan😁
Hahah lumayan mbak. Semangat buat mbak jugaa
Iya salah satu tujuan saya seperti di bio blog dulu, ingin menjadi penulis inspiratif hehe
dari dulu awalnya yang suka banget bikin presentasi tugas dan akhirnya saya lebih suka nulis dari pada bicara di depan umum. rasanya passion saya hanya untuk menulis dan selalu menyenangkan ketika menulis banyak hal terutama mengenai apa yang kita sukai
Menulis memang menyenangkan, walau kadang ada yang tidak menyenangkan,, tapi tetap semangat nulis,, hehe
semua pekerjaan apsti ada suak dan dukanya tergantung kita suka aatu tidak
Hehehe,, yuni sukanya mah ada tempat menyalurkan segala imajinasi. Nggak sukanya, kadang kok yuni jadi terlihat kayak introvert gitu ya. Lebih suka menyendiri depan laptop. Hehehe
Iya nulis emang lebih asyik, tapi ada kalanya saya juga suka ngoceh aja misal di podcast hahahah
Kalau lagi burnout saya bisa ga nulis sampai seminggu wkwkwk
Iya jadi kalau ada yang biang nulis itu gampang hahahha mereka belom tauu
Emang sih, nah saya ekstrovert banget luar dalam hahha tapi kan nggak mungkin ngoceh dan tampil terus, nulis jadi penyeimbang untuk menampung kata-kata saya :D
Saya justru baru menulis kembali setelah melepas kerja kantoran. Setelah terakhir masa smu-kuliah yang hanya menulis diary. Kuakui menulis yang disenangi dengan niat untuk berbagi, rasanya berbeda dengan menulis laporan kerjaan atau pun riset yang merupakan tanggung jawab. Walau ada kesamaan disana. Aku pun juga orang yang suka kepo alias curiousitynya tinggi, benar kata mbanya, daripada bikin kesal orang karena nanya/komen terus, ketkka dituangkan jadi tulisan dan menemukan pembacanya yang menikmati, hal itu merupakam apresiasi yang luar biasa rasanya bagi saya. So far saya menulis masih sebatas yang saya senang belum untuk memenuhi klien, pun untuk mempercantik blog dan ilmu menulis saya masih cetek banget, perlu banyak belajar. Namun dinikmati saja bahwa niat saya menulis saat ini untuk melepas rasa belum untuk menumpuk lembaran rupiah. Semoga ke depannya, saya dapat belajar menjadi profesional dalam menulis sehingga lembaran rupiah datang dengan sendirinya tanpa saya merasa kehilangan rasa senang di dalam menulisnya.
Wah seru ya jadi content writer, disebalik pundi rupiah yang semakin terisi, rupanya ada perjuangan 'berdarah-darah' juga yang harus dipikul. *eh
Saya sih masih sekadar menulis untuk diri sendiri mba, jadi hambatannya palingan soal membagi waktu, antara hobi dan keluarga atau bertarung melawan kemalasan. Hihi
Terima kasih sudah berbagi, semoga semakin sukses, mbak. 🙏
Bahagia dalam berkarya itu yang utama :)
Semangat mbaak :)
Semangat terus untuk ngeblog hingga sukses dari blog :D
Posting Komentar